Welcome~ :)

Blog ini adalah sekumpulan coretan yang dihimpun pada masa sekolah dan--semoga--masa kuliah. Bila berkenan, tinggalkan komentar berisi saran yang berguna untuk kemajuan blog ini.
Semoga blog ini banyak memberi manfaat :)

Rabu, 07 Maret 2012

Boso Walikan: Bahasa Gaul Kera Ngalam


Bahasa adalah alat utama bagi manusia untuk berkomunikasi. Melalui bahasa, manusia dapat mengekspresikan diri dan memanipulasi objek dalam lingkungannya. Bahasa yang diciptakan dan dimiliki oleh manusia sangatlah unik dan rumit; berbeda dengan bahasa yang dimiliki oleh binatang. Bahasa dalam dunia binatang sangat terbatas dan diwariskan turun-temurun dengan mengalami sedikit—atau bahkan tidak sama sekali—perubahan. Sedangkan bahasa yang dimiliki oleh manusia mencakup bidang yang lebih luas dan relatif banyak mengalami perubahan seiring dengan berjalannya waktu.
            Perbedaan letak geografis menjadi salah satu faktor penyebab beragamnya bahasa yang dimiliki oleh manusia. Sebut saja bahasa Inggris, bahasa Indonesia, bahasa Melayu, dan lain-lain. Bahasa yang dimiliki oleh bangsa Indonesia sendiri begitu beragam; ada sekitar 115 bahasa daerah yang diperkirakan tersebar dari Sabang hingga Merauke.
Tidak mau ketinggalan, para remaja juga menciptakan bahasa mereka sendiri, yang mereka sebut dengan Bahasa Gaul. Bahasa ini awalnya tercipta karena adanya keinginan untuk menyampaikan hal-hal yang bersifat tertutup untuk kelompok usia tertentu. Salah satu contohnya adalah bahasa yang diciptakan oleh para Kera Ngalam alias Arek Malang (Indonesia: anak Malang), yaitu Boso Walikan.
            Memang awalnya Boso Walikan ini dipopulerkan oleh anak usia remaja hingga pemuda di kota Malang, namun kini bahasa ini umum digunakan oleh penduduk Malang Raya tanpa memandang jenjang usia. Penggunaannya pun melalui media yang cukup beragam; mulai dari percakapan sehari-hari hingga kolom khusus di sebuah surat kabar lokal. Boso Walikan ini pun telah mulai digunakan di luar wilayah Malang; umumnya disebarluaskan oleh penduduk Malang Raya yang tengah menimba ilmu maupun bekerja di luar kota.
            Bahasa ini cukup mudah untuk dipahami dan dipelajari; penggunanya cukup mengubah susunan kata dalam bahasa Jawa maupun bahasa Indonesia yang biasanya ditulis dan dieja dari kiri ke kanan menjadi dari kanan ke kiri. Contohnya adalah kadit yang berarti ‘tidak’ dan kodew yang berarti ‘wedok’ (Indonesia: perempuan). Tidak semua kata dalam satu kalimat harus dibalik untuk bisa disebut sebagai Boso Walikan. Salah satu contoh kalimat dalam percakapan misalnya “Hen, besok ayas mampir ke hamurmu, jam 12 umak nganggur kan? Nuwus,” yang artinya, “Hen, besok saya mampir ke rumahmu, jam 12 kamu menganggur kan? Terimakasih.”
            Meskipun Boso Walikan ini relatif mudah dipahami dan dipelajari, namun masih banyak hal yang dapat menyebabkan terjadinya salah persepsi apabila sembarangan digunakan di depan orang yang masih sama sekali asing dengan bahasa ini. Sebagai contoh, ngalam yang berarti ‘malang’ agak sulit dipahami orang yang baru mempelajari bahasa ini karena apabila kata ngalam dibalik dengan urutan yang benar, maka akan terbaca sebagai ‘malagn’. Begitu pula dengan kata Ongis Nade (Indonesia: Singa Gila) yang umum digunakan untuk menggambarkan salah satu kesebelasan andalan kota Malang, apabila dibalik dengan urutan yang benar maka akan terbaca ‘Singno Edan’.
            Bagaimanapun, Boso Walikan ini bukanlah sekedar bahasa gaul yang sekarang sedang tren dan akan kehilangan pamornya dalam waktu dekat seperti bahasa-bahasa gaul lainnya. Bahasa ini lebih cocok disebut sebagai ciri khas Malang Raya yang patut dilestarikan. Walaupun begitu, sebaiknya penggunanya lebih berhati-hati dalam memilih kata yang akan di-walik dan menyesuaikan penggunaannya dengan situasi yang ada; jangan sampai ada stigma bahwa Boso Walikan ini hanyalah digunakan untuk menyamarkan kata-kata kotor dan umpatan.
            Apapun bahasanya, dari mana pun asalnya, se-nyeleneh apa pun bentuknya, keanekaragaman bahasa adalah salah satu bukti peradaban manusia. Oleh karena itu, marilah kita melestarikan bahasa-bahasa yang ada di sekitar kita—khususnya Boso Walikan karya Kera Ngalam yang unik ini

1 komentar:

  1. Boso malangan bukan boso walikan,beda.boso malangan tidak asal dibalik tapi ada estetikanya.ojir(uang)ebes(orang tua)idrek(kerja)hayam(bersetubuh)asaib/nolab(pelacur) adlh bbrp contoh boso malangan bukan boso walikan

    BalasHapus